Make Money Online Up to $10.000 Every Weeks

Jumat, 29 November 2013

CHELSEA FC

Chelsea fc adalah salah satu klub raksasa ingggris yang bermarkas di London, Klub ini didirikan oleh H.A. Mears pada tahun 1905.
berikut adalah sejarah singkat mengenai CHELSEA FC.

Nama Lengkap: Chelsea Football Club

Julukan: The Blues

Berdiri: 1905

Alamat: Stamford Bridge, London SW6 1HS England

Telepon: 0870 300 1212

Faksimile: 020 7381 4831

Surat Elektronik: fitc@chelseafc.com

Laman Resmi: http://www.chelseafc.com

Ketua: Bruce Buck

Direktur: Ron Gourlay & Eugene Tenenbaum

Stadion: Stamford Bridge (kapasitas 42.449)

Prestasi

Juara Liga Inggris : 1954–55, 2004–05, 2005–06, 2009-2010

Runner Up Liga Inggris: 2003–04, 2006–07, 2007–08

Juara Divisi Satu: 1983–84, 1988–89

Piala FA : 1970, 1997, 2000, 2007, 2009, 2010

Piala Liga (Carling Cup) : 1965, 1998, 2005, 2007

Community Shield : 1955, 2000, 2005, 2009

Full Members Cup1986, 1990

Runner Up Liga Champions : 2008

Piala UEFA : 1971, 1998

Piala Super Eropa : 1998 (kpl/row)

Sejarah Singkat

Sukses Chelsea diraih melalui jalan panjang. Sejak didirikan pada 1905 di sebuah pub bernama "The Rising Sun", The Blues baru menikmati sukses sebagai klub pada pertengahan 1950-an. Tak tanggung-tanggung, gelar pertama yang digaet adalah gelar liga yang sangat bergengsi. Saat itu, Chelsea ditangani manajer Ted Drake.

Setelahnya, Chelsea mengalami pasang surut. Rencana pembenahan Stamford Bridge malah membuat kondisi finansial klub terancam. Tingkah laku hooligan malah memperparah suasana. Pada 1982, Chelsea diselamatkan Ken Bates yang membeli kepemilikan klub seharga £1 saja.

Periode sukses berikutnya pun muncul. Tidak sepenuhnya, tapi era kepemilikan Bates membuka pintu bagi periode Roman Abramovich hingga saat ini. Di bawah penanganan Bates, wajah Chelsea berubah dari klub tradisional menjadi klub kosmopolitan.

Chelsea tak segan-segan mengucurkan dana besar untuk mendatangkan sederetan pemain ternama. Glenn Hoddle, Dennis Wise, Ruud Gullit, Gianluca Vialli, atau Roberto di Matteo, adalah serangkaian nama yang mengawali era kosmopolitan Chelsea. Setelah dibeli Abramovic, wajah Chelsea pun tak lagi sama. Bahkan mungkin sangat jauh dari bayangan para pendirinya di The Rising Sun lebih dari satu abad silam.

Ref
Read more / Baca selengkapnya →

Battle Of The Stars

Para Bobotoh mungkin sudah tidak sabar lagi untuk menyaksikan laga antara Persib melawan DC United.
Laga antara Persib kontra DC United akan digelar di Stadion Si Jalak Harupat, 6 Desember nanti.
Panpel Persib Bandung mengatakan siap untuk menggelar laga persahabatan internasional bertajuk Battle Of The Stars antara Persib Bandung kontra DC United di stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Bandung, 6 Desember nanti.
Persiapan demi persiapan terus dilakukan secara maksimal oleh Panpel Persib. "Mungkin persiapannya baru 70 persen, tapi secara lisan bisa kami pastikan kalau kami sudah siap menggelar laga ini," kata Dadang I. Danubrata, Ketua Panpel Persib, dalam jumpa pers di Graha Persib, Jumat (29/11).

Dadang menambahkan laga ini nantinya bukan hanya disiarkan langsung di Indonesia oleh salah satu televisi swasta nasional, tapi juga akan di relay ke Amerika Serikat yang merupakan negara asal DC United.

Untuk itu, Panpel pun meminta suporter yang akan hadir ke stadion bisa tertib. "Pertandingan ini tidak hanya membawa nama Bobotoh, PERSIB, atau Bandung saja. Tapi juga membawa nama bangsa Indonesia," ucap Budi Bram, Sekretaris Panpel Persib, menambahkan.

Baca juga...

Ref
Read more / Baca selengkapnya →

Kamis, 28 November 2013

Pesta Yoga Hadir Kembali

Pesta yoga yang di wadahi oleh Namaste Festival hadir kembali di Jakarta. Dalam kegiatan ini, para peserta bisa mengikuti latihan-latihan yoga dari para yogi mancanegara, mengikuti seminar dan workshop seputar penyembuhan dan well-being. Tahun ini Namaste Fesvital akan digelar pada 29 November - 1 Desember di Hotel Sultan Jakarta.
Yoga memang jenis latihan yang memiliki para penggemar setia. Praktik yang menyatukan gerak tubuh, pikiran, dan jiwa ini banyak menjadi pilihan orang-orang yang hidup di kota besar saat ini. Bisa jadi karena yoga mengajarkan pemahaman bagaimana tubuh bekerja dan kemudian memelihara kesehatannya.

Dalam Namaste Festival yang tahun ini masuk dalam tahun kelima, jumlah peserta yang mendaftar lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.

“Festival ini kami selenggarakan sebagai jembatan bagi pertukaran informasi antara praktisi Yoga, Healing, dan Well-being bersama komunitasnya. Namaste Festival tahun ini lebih berpusat pada seluruh keluarga tanpa ada batasan usia,” tutur Anita Boentarman, Founder and Chairman dari Namaste Festival dalam konferensi pers yang berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (28/11/2013).

Bekerja sama dengan Bank Pertama, festival kali ini menghadirkan Kids and Parenting program, yaitu aktivitas unik yang dikemas bagi anak-anak dan orangtua agar dapat menikmati acara bersama-sama. Praktisi khusus asal Spanyol, Michael Gonzales-Wallace, akan mengisi program itu dengan nama “Super Body Super Brain”, yaitu sebuah program kebugaran untuk memaksimalkan kerja tubuh dan otak dengan waktu yang singkat.

“Orangtua bisa menjalani gaya hidup sehat bersama buah hati mereka sekarang,” kata Anita.

Seperti halnya para idola dalam dunia musik, para yogi dan praktisi penyembuhan pun memiliki penggemarnya sendiri. Tak heran jika beberapa praktis selalu ditunggu kehadirannya. Beberapa praktisi yang akan hadir diantaranya yang sudah dikenal masyarakat luas yaitu Arif Senotosa (Vinyasa Yoga), Gagan Pribadi (Theta Therapy), Evita Zoraya (Angelic Therapy), dan masih banyak lagi.

“Kami berharap setiap harinya ada sekitar 800-1.000 orang yang datang per harinya,” tandas Anita.

Selain berlatih yoga dan mengikuti latihan penyembuhan, para pengunjung yang hadir di acara ini juga bisa menikmati aneka makanan dan minuman sehat dalam Namaste Healthy Cafe.


Read more / Baca selengkapnya →

Komet ISON Mati Saat Mendekati Matahari

Kemunculan Komet ISON bisa dilihaat dengan mata telanjang yang ditunggu-tunggu warga bumi akhirnya tidak menjadi nyata, pasalnya komet ISON keburu mati saat bertarung dengan Matahari.

Komet ISON yang mencapai titik terdekat dengan Matahari pada Jumat (29/11/2013) Pukul 01.38 dini hari tadi bernasib tragis. Komet itu mengalami Disintegrasi.
"Saya tidak melihat apapun yang muncul dari balik piringan Matahari. Itu bisa menjadi kuku dalam peti mati," kata astrofisikawan Karl Batams dalam siaran langsung di NASA TV pada dini hari tadi.

"Menyedihkan bahwa sepertinya komet ISON berakhir seperti ini, tetapi kita akan tetap terus mempelajari tentang komet ini," imbuh Batams seperti dikutip dalam berita Reuters pagi ini.

ISON adalah komet yang berasal dari wilayah yang disebut Awan oort, sebuah gudang komet di dekat Tata Surya. Komet ini tergolong menempuh perjalanan selama 5,5 juta tahun dari Awan Oort ke bintang induk Tata Surya.

Saat mencapai perihelion, ISON hanya berjarak 1,2 juta km dari permukaan Matahari. Saat mencapai titik terdekat, ISON bergerak dengan kecepatan mencapai 350 km/detik.

ISON ditemukan oleh astronom Vitali Nevski dan Artyom Nivichonok dari Rusia pada 21 September 2012. Komet ini bersarang di Awan Oort seklama 4,5 juta tahun sebelum gravitasi dari bintang lain mengganggunya hingga menempuh perjalanan ke Tata Surya.

Kematian ISON mengecewakan warga Bumi. Semula, diperkirakan komet ini bisa terlihat dengan mata telanjang pada pertengahan Desember hingga awal Januari.

"Saya harap kita bisa melihat yang lain lagi segera," ungkap Dean Pesnell, ilmuwan dari proyek Solar Dynamics Observatory".

YA mudah-mudahan Kome ISON yang lain muncul kembali dan bisa dilihat dengan mata telanjang...

Read more / Baca selengkapnya →

Selasa, 26 November 2013

Kisah Islami

Sa’id bin Jubair Melawan Kekejaman Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi
Suatu ketika takdir Allah menghendaki terjadinya perselisihan antara Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dengan salah satu pendampingnya yang bernama Abdurrahman bin Asy’ats. Perang argumen akhirnya berkembang menjadi fitnah besar yang menelan sangat banyak korban, meninggalkan bekas luka yang dalam dan menyedihkan hati kaum muslimin.

Ada yang berkata bahwa fitnah tersebut terjadi ketika Hajjaj mengutus Ibnu Asy’ats bersama pasukannya untuk menaklukkan kota Ratbil di Turki, di belakang daerah yang bernama Sajistan.

Maka berperanglah panglima yang tangguh tersebut dengan membawa pasukan besarnya dan berhasil menguasai sebagian besar wilayah negeri tersebut. Termasuk merebut beberapa benteng yang kokoh dan mendapatkan banyak ghanimah dari kota-kota dan desa-desa. Kemudian panglima itu mengirim utusan untuk menghadap kepada Hajjaj agar menyampaikan kabar gembira dan sekaligus mengirimkan seperlima dan ghanimah untuk baitul maal milik kaum muslimin. Selain itu dia juga menulis surat, minta izin untuk sementara menghentikan perang. Agar dia dapat mempelajari seluk-beluk medan maupun keadaan dan kebiasaan penduduk negeri itu, sebelum memutuskan untuk menyerbu daerah pedalaman yang belum diketahui medannya oleh pasukan yang sebelumnya telah berhasil mendapatkan kejayaan.

Namun Hajjaj murka dengan pendirian panglima tersebut. Dia menulis surat balasan berisi kecaman pedas dan menuduh Abdurrahman sebagai pengecut serta mengancam akan memecatnya. Begitu surat dari gubernurnya datang. Abdurrahman bin Asy’ats segera mengumpulkan para komandan pasukan dan perwiranya. Beliau membaca surat tersebut untuk kemudian dimusyawarahkan bagaimana sikap yang harus mereka ambil.

Ternyata para komandan itu menyarankan untuk menentang perintah Hajjaj. Maka Abdurrahman berkata, “Apakah kalian bersedia berbaiat untuk berjihad kepadanya hingga Allah membersihkan bumi Irak dari kezalimannya?” akhirnya mereka melakukan baiat kepada panglimanya.

Tentara Abdurrahman bin Asy’ats bergerak menyerang pasukan Hajjaj dengan kebencian berkobar di dada. Terjadilah pertempuran dahsyat antara mereka dengan pasukan Ibnu Yusuf, dan pasukan Abdurrahman berhasil memenangkannya hingga mampu menguasai Sajistan serta sebagian besar wilayah Persia. Selanjutnya Abdurrahman berhasrat merebut Kufah dan Basrah dari kekuasaan Hajjaj bin Yusuf.

Perang masih berkecamuk antara dua kubu. Ibnu Asy’ats terus menguasai kota demi kota. Hal itu membuat kemarahan Hajjaj memuncak ke ubun-ubun. Bersamaan dengan itu, para wali di berbagai daerah telah menulis surat kepada Hajjaj yang melaporkan banyaknya ahli dzimmah yang memeluk Islam untuk melepaskan diri dari kewajiban membayar jizyah. Mereka telah meninggalkan pedesaan menuju ke kota-kota. Ini berarti makin menipisnya pendapatan negara. Kemudian Hajjaj menulis surat kepada walinya di Basrah dan kota-kota lainnya untuk mengumpulkan para ahli dzimmah yang telah berpindah dan mengembalikan semuanya ke tempat asal masing-masing. Tak luput pula bagi mereka yang sudah lama tinggal di kota. Perintah Hajjaj segera dilaksanakan. Sejumlah besar ahli dzimmah tersebut dikumpulkan dan dijauhkan dari mata pencahariannya. Di pinggiran kota, mereka dikumpulkan beserta anak-istrinya dan dipaksa kembali ke desa-desa yang telah lama mereka tinggalkan.

Para wanita, anak-anak dan orang-orang tua menangis beruraian air mata. Mereka minta tolong sambil berseru, “Wahai umat Muhammad.. wahai umat Muhammad.” Mereka bingun hendak berbuat apa, tak tahu harus pergi kemana. Kemudian, keluarlah para ulama dan ahli-ahli fikih Bashrah untuk menolong serta mengusahakan agar perintah tersebut dibatalkan. Namun hasilnya nihil, sehingga mereka pun ikut menangis karena tangisan mereka lalu berdoa agar Allah mengentaskan mereka dari musibah tersebut.

Kekecewaan para ulama itu dimanfaatkan oleh Abdurrahman. Dia mendekati para alim ulama untuk mendukung perjuangannya. Kemudian beberapa tokoh tabi’in dan pemuka-pemuka Islam turun tangan, di antara termasuk Sa’id bin Jubair, Abdurrahman bin Laila, Imam asy-Sya’bi, Abul Bukhtari dan lain-lain.

Perang besar antara kedua belah pihak meletus. Mula kemenangan berpihak di pasukan Ibnu Asy-ats, tapi kemudian sedikit demi sedikit keseimbangan beralih. Pasukan Hajjaj berada di atas angin, sampai akhirnya kekuatan Ibnu Asy’ats dapat dihancurkan. Ibnu Asy’at melarikan diri dan pasukannya menyerah kepada Hajjaj.

Setelah itu, Hajjaj memerintahkan pegawainya untuk menyeru kepada para pemberontak agar memperbaharui baiatnya. Di antara mereka ada yang menaati dan sebagian kecil menghilang, termasuk Sa’id bin Jubair.

Orang-orang yang menyerah itu datang untuk berbaiat, namun mereka dikejutkan oleh kejadian yang tidak mereka duga. Hajjaj berkata kepada salah seorang di antara mereka, “Apakah engkau mengaku kafir karena telah membatalkan baiatmu kepada amirmu? Jika dia menjawab, “Ya” maka diterima baiatnya yang baru lalu dibebaskan. Namun jika menjawab, “Tidak” maka dibunuh.

Sebagian dari mereka yang lemah, tunduk dan terpaksa mengaku kafir demi keselamatan dirinya. Sedangkan sebagian lagi tetap teguh dan tidak meingdahkan perintah tersebut, tetapi mereka harus membayar dengan lehernya.

Menurut kabar yang tersebar, penjagalan tersebut telah memakan ribuan orang, sedangkan ribuan selainnya selamat setelah mengaku kafir.

Dalam kejadian lain, ada orang tua dari suku Khat’am. Ketika terjadi huru-hara dan kekacauan antara dua kubu, dia tidak berpihak kepada siapapun dan tinggal di suatu tempat yang jauh di belakang sungai Eufrat. Kemudian dia digiring menghadap Hajjaj, lalu ditanya tentang dirinya.

Orang Tua: “Semenjak meletus pertempuran, aku mengasingkan diri ke tempat yang jauh sambil menunggu perang usai. Setelah Anda menang dan perang usai, maka aku datang kemari untuk melakukan baiat.”

Hajjaj: “Celakalah engkau! Engkau tinggal diam menjadi penonton dan tidak ikut membantu pemimpinmu, sekarang apakah engkau mengaku bahwa dirimu telah kafir?”

Orang tua: “Terkutuklah aku jika selama 80 tahun ini mengabdi kepada Allah, lalu mengaku sebagai kafir.”

Hajjaj: “Jika demikian aku akan membunuhmu.”

Orang tua: “Jika engkau membunuhku.. demi Allah, yang tersisa dari usiaku selama ini hanyalah seperti waktu kesabaran seekor keledai yang kehausan. Pagi hari dia minum dan sorenya mati. Aku memang sudah menantikan kematian itu siang dan malam hari. Oleh karena itu, lakukanlah semaumu.

Akhirnya orang tua itupun dipenggal lehernya. Tak seorang pun dari pengikut ataupun musuh Hajjaj yang hadir di situ yang tak memuji dan merasa iba terhadap syaikh tua tersebut serta memintakan rahmat untuknya.

Kemudian giliran Hajjaj memanggil Kamil bin Ziyad an-Nukhai dihadapkan dari ditanya:

Hajjaj: “Apakah engkau mengakui dirimu telah kafir?”

Kamil: “Tidak. Demi Allah aku tidak akan mengakuinya.”

Hajjaj: “Bila demikian, aku akan membunuhmu.”

Kamil: “Silakan saja kalau engkau mau melakukannya. Kelak akan bertemu di sisi Allah dan setiap pembunuhan ada perhitungannya.”

Hajjaj: “Ketika itu, kesalahan berada di pihakmu.”

Kamil: “benar, bila engkau yang menjadi hakimnya di hari kiamat itu.”

Hajjaj: “Bunuh dia!”

Lalu beliaupun dibunuh…

Selanjutnya dihadapkan pula seseorang yang sudah lama menjadi burnonan Hajjaj karena dianggap menghinanya. Hajjaj berkata, “Kurasa orang yang di hadapanku ini mustahil mengakui dirinya kafir.” Namun orang itu menjawab, “Janganlah tuan memojokkan aku dulu dan jangan pula berdusta tentang diriku. Sesungguhnya akulah orang yang paling kafir di muka bumi ini, lebih kafir daripada Fir’aun yang semena-mena itu.” Hajjaj terpaksa membebaskannya, padahal ia sudah gatal untuk membunuhnya.

Konon, pembantaian besar-besaran tersebut telah menelan ribuan korban dari orang-orang mukmin yang teguh pendiriannya. Dan ribuah lain yang selamat adalah yang dipaksa mengaku dirinya kafir. Sa’id bin Jubair merasa yakin bahwa kalau dia tertangkap, maka akan menghadapi dua pilihan seperti yang lain juga, yaitu dipenggal lehernya atau mengakui dirinya kafir. Dua pilhan, yang paling manis dari keduanyapun begitu pahit. Oleh sebab itu, beliau memilih keluar dari Irak, ia menyembunyikan diri dari masyarakat. Maka berkelilinglah ia di bumi Allah dengan sembunyi-sembunyi agar tak diketahui oleh Hajjaj dan kaki tangannya, hingga akhirnya tinggal di sebuah desa di dekat Mekah.

Selama sepuluh tahun beliau tinggal di sana, waktu yang cukup lama untuk menghilangkan dendam dan kedengkian Hajjaj.

Akan tetapi, ternyata ada perkembangan situasi yang tak terduga. Seorang amir baru didatangkan ke Mekah, yaitu Khalid bin Abdullah al-Qasri yang juga berasal dari Bani Umayah. Para sahabat Sa’id bin Jubair menjadi gelisah dan khawatir karena mereka tahu tentang kekejaman wali baru itu. Mereka menduga bahwa wali baru tersebut pasti akan menangkap Sa’id bin Jubair.

Di antara mereka segera menemui Sa’id bin Jubair lalu berkata, “Orang itu telah datang ke Mekah. Demi Allah, kami khawatir akan diri Anda, maka sebaiknya Anda keluar saja dari sini.” Namun beliau menjawab, “Demi Allah, sudah lama aku bersembunyi sampai malu rasanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aku telah memutuskan akan tetap tinggal di sini, pasrah dengan kehendak Allah.”

Dugaan orang-orang tentang kekejaman Khalid ternyata tak meleset. Begitu mendengar dan mengetahui tempat persembunyian Sa’id bin Jubair, dia langsung mengirimkan pasukannya untuk menangkap Sa’id, mengikat lalu mengirimkannya kepada Hajjaj di kota Wasit nanti.

Tentara Khalid mengepung rumah syaikh tersebut lalu menangkap dan mengikatnya di depan murid-murid dan para sahabatnya. Setelah itu mereka bersiap-siap untuk membawanya kepada Hajjaj. Sa’id menghadapi semua itu dengan tenang. Beliau menoleh kepada para sahabatnya dan berkata,

“Saya merasa akan terbunuh di tangan penguasa yang zalim itu. Sesungguhnya pada suatu malam aku pernah melakukan ibadah bersama dua orang teman. Kami merasakan manisnya ibadah dan doa kepada Allah, lalu kami bertiga memohon syahadah (mati syahid). Kedua kawan tersebut sudah mendapatkannya, tinggal aku yang masih menunggu.”

Belum lagi beliau selesai bicara,seorang gadis cilik muncul dan demi melihat beliau diikat dan diseret oleh para prajurit, dia langsung merangkul Sa’id sambil menangis. Sa’id menghiburnya dengan lembut dan berkata, “Katakanlah kepada ibumu wahai putriku, kita akan bertemu nanti di surga, insya Allah.” Bocah itupun pergi.

Sampailah utusan yang membawa Sa’id seorang imam yang zahid, ‘abid, dan berbakti itu di kota Wasit. Sa’id dihadapkan kepada Hajjaj bin Yusuf.

Setelah Sa’id berada di hadapan Hajjaj, dengan pandangan penuh kebencian Hajjaj bertanya:

Hajjaj: “Siapa namamu?”

Sa’id: “Sa’id (bahagia) bin Jubair (perkasa).”

Hajjaj: “Yang benar engkau adalah Syaqi (celaka) bin Kasir (lumpuh).”

Sa’id: “Ibuku lebih mengetahui namaku daripada engkau.”

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang Muhammad?”

Sa’id: “Apakah yang kau maksud adalah Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Hajjaj: “Benar.”

Sa’id: “Manusia utama di antara keturunan Adam dan nabi yang terpilih. Yang terbaik di antara manusia yang hidup dan yang paling mulia di antara yang telah mati. Beliau telah mengemban risalah dan menyampaikan amanat, beliau telah menunaikan nasihat bagi Allah, kitab-Nya, bagi seluruh kaum muslimin secara umum dan khusus.”

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?”

Sa’id: “Ash-Shiddiq, khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau wafat dengan terpuji dan hidup dengan bahagia. Beliau mengambil tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa merubah ataupun mengganti sedikitpun darinya.”

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang Umar?”

Sa’Id: “Beliau adalah al-Faruq, dengannya Allah membedakan antara yang haq dengan yang batil. Beliau adalah manusia pilihan Allah dan rasul-Nya, beliau melaksanakan dan mengikuti jejak kedua pendahulunya, maka dia hidup terpuji dan mati sebagai syuhada.”

Hajjaj: “Bagaimana dengan Utsman?”

Sa’id: “Beliau yang membekali pasukan Usrah dan meringankan beban kaum muslimin dengan membeli sumur “Ruumah” dan membeli rumah untuk dirinya di Surga. Beliau adalah menantu Rasulullah atas dua orang putri beliau dan dinikahkan karena wahyu dari langit. Lalu terbunuh di tangan orang zalim.”

Hajjaj: “Bagaimana dengan Ali?”

Sa’id: “Beliau adalah Putra paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemuda pertama yang memeluk Islam. Beliau adalah suami Fathimah radhiallahu ‘anha putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ayah dari Hasan dan Husein yang merupakan dua pemimpin pemuda ahli Surga.”

Hajjaj: “Khalifah yang mana dari Bani Umayah yang paling kau sukai?”

Sa’id: “Yang paling diridhai Pencipta mereka.”

Hajjaj: “Manakah yang paling diridhai Rabb-nya?”

Sa’id: “Ilmu tentang itu hanyalah diketahui oleh Yang Maha Mengetahui yang zahir dan yang tersembunyi.”

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang diriku?”

Sa’id: “Engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri.”

Hajjaj: “Aku ingin mendengarkan pendapatmu.”

Sa’id: “Itu akan menyakitkan dan menjengkelkanmu.”

Hajjaj: “Aku harus tahu dan mendengarnya darimu.”

Sa’id: “Yang kuketahui, engkau telah melanggar Kitabullah, engkau mengutamakan hal-hal yang kelihatan hebat padahal justru membawamu ke arah kehancuran dan menjurumuskanmu ke neraka.”

Hajjaj: “Kalau begitu, demi Allah aku akan membunuhmu.”

Sa’id: “Bila demikian, maka engkau merusak duniaku dan aku merusak akhiratmu.”

Hajjaj: “Pilihlah bagi dirimu cara-cara kematian yang kau sukai.”

Sa’id: “Pilihlah sendiri wahai Hajjaj. Demi Allah, untuk setiap cara yang kau lakukan, Allah akan membalasmu dengan cara yang setimpal di akhirat nanti.”

Hajjaj: “Tidakkah engkau menginginkan ampunanku?”

Sa’id: “Ampunan itu hanyalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan engkau tak punya ampunan dan alasan lagi di hadapan-Nya.”

Memuncaklah kemarahan Hajjaj. Kepada algojonya diperintahkan: “Siapkan pedang dan alasnya!”

Sa’id tersenyum mendengarnya, sehingga bertanyalah Hajjaj,

Hajjaj: “Mengapa engkau tersenyum?”

Sa’id: “Aku takjub atas kecongkakanmu terhadap Allah dan kelapangan Allah terhadapmu.”

Hajjaj: “Bunuh dia sekarang!”

Sa’id: (Menghadap kiblat sambil membaca firman Allah Ta’ala):

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Al-An’am: 79)

Hajjaj: “Palingkan ia dari kiblat!”

Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala)

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah: 115)

Hajjaj: “Sungkurkan dia ke tanah!”

Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala)

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55)

Hajjaj: “Sembelihlah musuh Allah ini! Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti dia.”

Sa’id: (Mengangkat kedua tangannya sambil berdoa), “Ya Allah jangan lagi Kau beri kesemaptan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”

Tak lebih dari lima belas hari setelah wafatnya Sa’id bin Jubair, mendadak Hajjaj bin Yusuf terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya makin meningkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaannya silih berganti antara pingsan dan siuman. Tidurnya tak lagi nyenyak, sebentar-sebentar terbangun dengan ketakutan dan mengigau: “Ini Sa’id bin Jubair hendak menerkamku! Ini Sa’id bin Jubair berkata: “Mengapa engkau membunuhku?” Dia menangis tersedu-sedu menyesali diri: “Apa yang telah aku perbuat atas Sa’id bin Jubair? Kembalikan Sa’id bin Jubair kepadaku!”

Kondisi itu terus berlangsung hingga dia meninggal. Setelah kematian Hajjaj, seorang kawannya pernah memimpikannya. Dalam mimpinya itu dia bertanya kepada Hajjaj: “Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perbuat terhadapmu setelah membunuh orang-orang itu, wahai Hajjaj?”

Dia menjawab, “Aku disiksa dengan siksaan yang setimpal atas setiap orang tersebut, tapi untuk kematian Sa’id bin Jubair aku disiksa 70 kali lipat.”

Selamat Membaca dan Semoga Bermanfaat...

Read more / Baca selengkapnya →

Kisah Islami

Sa’id bin Jubair
Badannya kekar, sempurna bentuk tubuhnya, lincah gerak-geriknya, cerdas otaknya, jenius akalnya, antusias terhadap kebajikan, dan menjauhi dosa. Meski hitam warna kulitnya, keriting rambutnya, dan asalnya dari Habsyi, namun tidaklah jatuh rasa percaya dirinya untuk menjadi manusia yang istimewa, apalagi umurnya masih muda.

Pemuda yang berasal dari Habsyi asli dan menjadi warga Arab ini sadar betul bahwa ilmu adalah jalan yang bisa mengantarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan takwa adalah jalan yang menuntunnya ke surga. Oleh sebab itu, dijadikannya takwa di sisi kanannya dan ilmu di sisi kirinya. Keduanya dipadukan dengan ikatan yang erat.
Dengan dua hal tersebut beliau mengarungi samudra kehidupan tanpa berleha-leha dan berpangku tangan. Sejak beliau masih muda, orang-orang telah mengenalnya sebagai pemuda yang akrab dengan buku-buku yang ia baca. Atau jika mereka tidak mendapatkannya sedang membaca buku, maka beliau tengah di mihrabnya untuk ibadah. Itulah dia manusia pilihan di zamannya, Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu.
Pemuda Sa’id ini berguru kepada banyak sahabat senior, seperti Abu Sa’id al-Khudri, Adi bin Hatim ath-Thayy, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah ad-Dausi, Abdullah bin Umar maupun Ummul Mukminin Aisyah. Tapi guru utamanya adalah Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, guru besar umat Islam dan lautan ilmu yang luas.
Dengan setiap Sa’id bin Jubair mengikuti Abdullah bin Abbas layaknya bayangan yang selalu mengikuti orangnya. Dari sahabat inilah beliau menggali tafsir Alquran, hadis-hadis, dan seluk-beluknya. Darinya pula beliau mendalami persoalan agama maupun tafsirnya. Juga mempelajari bahasa hingga mahir dengannya. Dan pada gilirannya, tidak ada seorang pun di muka bumi ini kecuali memerlukan ilmunya.
Selanjutnya, beliau mengembara dan berkeliling di negara-negara muslimin untuk mencari ilmu sesuai kehendak Allah. Setelah merasa cukup, beliau memutuskan Kufah sebagai tempat tinggalnya. Dan kelak beliau menjadi guru dan imam di kota itu.
Beliau menjadi imam shalat bagi kaum muslimin di bulan Ramadhan, terkadang membaca Alquran dengan qira’ah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, terkadang dengan qira’ah Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dan terkadang dengan qira’ah selainnya.
Jika beliau shalat sendirian, adakalanya beliau khatamkan Alquran dalam sekali shalat. Dan sudah menjadi kebiasaan beliau apabila membaca ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“(Yaitu) orang-orang yang mendustakan al-Kitab (Alquran) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.” (QS. Al-Mukmin: 70-72)
Atau ketika membaca ayat-ayat serupa yang berisi ancaman, maka menjadi gemetarlah badannya, gentar hatinya, dan menetes air matanya. Kemudian mengulang-ulang ayat tersebut sampai adakalanya hampir pingsan.
Beliau melakukan perjalanan ke Baitullah al-Haram dua kali setiap tahunnya. Pertama adalah pada bulan Rajab untuk melakukan umrah, lalu di bulan Dzulqa’dah hingga usai ibadah haji.
Orang-orang yang merindukan ilmu dan kebaikan datang berduyun-duyun ke Kufah untuk menghirup sumber ilmu yang jernih dari Sa’id bin Jubair. Beliau ditanya, “Apakah khasyyah (takut) itu?” beliau menjawab, “Khasyyah adalah bahwa engkau harus takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hingga rasa takutmu menghalangi dirimu dari perbuatan maksiat.”
Ketika ditanya tentang dzikir, beliau berkata, “Dzikir itu adalah taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa menyahut seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menaati-Nya, berarti dia berdzikir kepada-Nya. Adapun orang yang berpaling dan tak mau taat, maka dia bukanlah termasuk ahli dzikir, meski dia bertasbih dan membaca Alquran semalam suntuk.”
Kota Kufah yang menjadi pilihan beliau untuk menetap ketika itu di bawah kepemimpinan gubernur Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Kekuasaan Hajjaj meliputi Irak dan seluruh Masyriq serta negeri di seberangnya, dia memegang kedudukan dan kekuasaannya dengan penuh kesombongan. Dia telah membunuh Abdullah bin Zubair, menumpas gerakannya, menundukkan Irak di bawah kekuasaan Bani Umayah dan memadamkan pemberontakan di sana-sini. Menghunus pedangnya ditengkuk manusia dan menyebarkan rasa takut di seluruh negeri kekuasaannya. Hingga para penduduk merasa ngeri dan takut akan kekejamannya.

Selamat Membaca...
Read more / Baca selengkapnya →

Cerita Lucu Abu Nawas

Tidak asing lagi, Nama Abu Nawas memang sudah sering kita dengar dari dulu dan sampai sekarang pun nama Abu Nawas dengan ceritanya yang lucu dan menarik itu masih sering kita dengar dan baca.
kali ini admin posting kisah lucu abu nawas

Mendemo Tuan Kadi

Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Ada dua
orang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual
kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.
Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si
pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh
murid-muridnya menutup kitab mereka.
"Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada
malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta
batu."
Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu
Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan
berddfa di pihak yang benar.
Pada malam harimya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa
peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,"Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak
Tuan Kadi yang baru jadi."
"Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?" gumam semua muridnya keheranan.
"Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" kata Abu
Nawas menghapus keraguan murid-muridnya. Barangsiapa yang mencegahmu,
jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa
yang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barangsiapa yang
hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan iemparilah dengan batu."
Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah Tuan Kadi.
Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi.
Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka. Lebih-lebih
ketikatanpa basa-basi lagi mereka iangsung merusak rumah Tua Kadi. Orang-orang
kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah

murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani
mencegah.
Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan
bertanya,"Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?"
Murid-murid itu menjawab,"Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami!"
Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan
rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.
Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak orang yang berani membelanya
"Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya
kepada Baginda."
Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu
Nawas dipanggil menghadap Baginda.
Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya. "Hai Abu Nawas apa
sebabnya kau merusak rumah Kadi itu"
Abu Nawas menjawab,"Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada sliatu malam
hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya.
Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus
lagi.Ya, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi."
Baginda berkata," Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah
perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?"
Dengan tenang Abu Nawas menjawab,"Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi
yang baru ini Tuanku."

Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. la
terdiam seribu bahasa.
"Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?" tanya Baginda.
Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran
karena takut.
"Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti
ini !" perintah Baginda.
"Baiklah ...... "Abu Nawas tetap tenang. "Baginda.... beberapa hari yang lalu
ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang
sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi
kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. Ini
hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung
mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda
Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di sinilah
terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik
pemuda Mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan
akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."
Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya
seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda
Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di
depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke
hadapan Baginda.
Berkata Baginda Raja,"Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu sejak
engkau datang ke negeri ini."

Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan
pemuda itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia
menginap.
"Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad
moralnya."
Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya
dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir.
Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas
pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,"Janganlah engkau memberiku barang sesuatupun
kepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua."
Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke
negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada
penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si
pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh
murid-muridnya menutup kitab mereka.
"Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada
malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta
batu."
Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu
Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan
berddfa di pihak yang benar.
Pada malam harimya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa
peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,"Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak
Tuan Kadi yang baru jadi."
"Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?" gumam semua muridnya keheranan.
"Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" kata Abu
Nawas menghapus keraguan murid-muridnya. Barangsiapa yang mencegahmu,
jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa
yang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barangsiapa yang
hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan iemparilah dengan batu."
Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah Tuan Kadi.
Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi.
Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka. Lebih-lebih
ketikatanpa basa-basi lagi mereka iangsung merusak rumah Tua Kadi. Orang-orang
kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah

murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani
mencegah.
Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan
bertanya,"Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?"
Murid-murid itu menjawab,"Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami!"
Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan
rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.
Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak orang yang berani membelanya
"Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya
kepada Baginda."
Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu
Nawas dipanggil menghadap Baginda.
Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya. "Hai Abu Nawas apa
sebabnya kau merusak rumah Kadi itu"
Abu Nawas menjawab,"Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada sliatu malam
hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya.
Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus
lagi.Ya, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi."
Baginda berkata," Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah
perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?"
Dengan tenang Abu Nawas menjawab,"Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi
yang baru ini Tuanku."
15
Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. la
terdiam seribu bahasa.
"Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?" tanya Baginda.
Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran
karena takut.
"Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti
ini !" perintah Baginda.
"Baiklah ...... "Abu Nawas tetap tenang. "Baginda.... beberapa hari yang lalu
ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang
sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi
kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. Ini
hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung
mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda
Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di sinilah
terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik
pemuda Mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan
akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."
Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya
seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda
Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di
depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke
hadapan Baginda.
Berkata Baginda Raja,"Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu sejak
engkau datang ke negeri ini."

Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan
pemuda itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia
menginap.
"Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad
moralnya."
Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya
dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir.
Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas
pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,"Janganlah engkau memberiku barang sesuatupun
kepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua."
Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke
negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada
penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.

Moga terhibur...
Read more / Baca selengkapnya →